26.3.11

ABSRAK

Dari zaman dahulu kebudayaan telah melekat di dalam masyarakat Indonesia, kebudayaan tersebut sangat beragam antara wilayah 1 dengan wilayah yang lain pun akan berbada. Kita sebagai generasi penerus hanya mewarisi dan diharapkan agar menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebut. Namun di era sekarang ini nilai kebudayaan di dalam masyarakat telah mulai meluntur bahkan ada sebagian yang mulai menghilang. Salah satu penyebabnya adalah era globalisasi yang dapat menggeser nilai-nilai kebudayaan yang telah melekat di dalam masyarakat Indonesia. Banyak para remaja sekarang ini yang tidak suka dengan kebudayaan daerahnya sendiri, mereka lebih senang meniru budaya asing yang sangat bertentangan dengan budaya Indonesia. Sebagai generasi penerus hendaknya kita mencintai dan melestarikan kebudayaan yang telah diwariskan dari dulu, agar nilai-nilai kebudayaan yang telah ada dapat diwariskan pada anak cucu kita. Jika generasi muda tidak mengenal nilai-nilai kebudayaan dari bangsanya, maka dengan mudah nilai kebudayaan tersebut diklaim oleh Negara lain. Kita sebagai generasi penerus) harus berusaha sebisa dan sebaik mungkin menjaga nilai kebudayaan yang telah terbentuk. Karena pembentukan kebudayaan membutuhkan waktu yang amat sangat luar biasa lama sekali. Tidak hanya diciptakan dan dibentuk dalam waktu yang singkat dan pembentukan kebudayaan tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan yakni melalui proses waktu yang lama dan turun temurun dari nenek moyang kita. Dan saat ini, seperti yang kita semua telah sadari, kebudayaan daerah, mulai luntur tergantikan oleh kebudayaan barat yang di agung-agungkan oleh generasi muda. Padahal orang-orang barat yang kita tiru gayanya itu lebih menghargai budaya daerah asli Indonesia. Karena mereka lebih menghargai originalitas suatu kebudayaan. Selain itu, klaim-klaim dari negara tetangga atas kebudayaan kita juga membuktikan bahwa kebudayaan yang kita miliki adalah salah satu kebudayaan paling luar biasa di dunia. Sudah sepantasnya kita jaga dan kita lestarikan dengan baik dan seharusnya kita mulai bangga akan budaya kita sendiri, dan melestarikannya dengan sebaik dan sebisa mungkin..

Kata kunci : nilai kebudayaan, proses, nenek moyang, generasi penerus dan melestarikan.



A. PENDAHULUAN.

Budaya bangsa Indonesia secara lambat laun terus luntur, sekaligus mengalami degradasi. Padahal disamping merupakan identitas suatu bangsa, budaya juga merupakan aset yang harus dipertahankan dan terus dikembangkan. Nilai kebudayaan telah melekat di dalam masyarakat Indonesia, nilai-nilai kebudayaan tersebut sangat beragam antara wilayah 1 dengan wilayah yang lain pun akan berbada. Namun di era sekarang ini nilai kebudayaan di dalam masyarakat telah mulai meluntur bahkan ada sebagian yang mulai menghilang. Salah satu penyebabnya adalah era globalisasi yang dapat menggeser nilai-nilai kebudayaan yang telah melekat di dalam masyarakat Indonesia. Banyak para remaja sekarang ini yang tidak suka dengan kebudayaan daerahnya sendiri, mereka lebih senang meniru budaya asing yang sangat bertentangan dengan budaya Indonesia. karena nilai-nilai kebudayaan dari berbagai Negara dengan mudah tersebar luas karena alat-alat komunikasi yang kian canggih dan maju.
Namun sangat disayangkan generasi kita malah semakin melupakan , dan hal hal ini pada akhirnya menimbulkan degradasi budaya .

B. PEMBAHASAN

Kebudayaan-kebudayaan bangsa sekarang sudah mulai luntur dari masyarakat kita karena masyarakat kita khususnya para pemuda lebih condong senang meniru budaya-budaya luar dari pada budaya asli kita sendiri. Sebagai contoh para remaja putri atau pemudi kita lebih senang meniru memakai celana pendek seperti remaja putri atau pemudi bule yang ternyata merupakan kebudayaan barat yang mereka anggap dapat membuat mereka lebih cantik dari pada memakai pakaian yang menutup anggota tubuh yang merupakan salah ciri khas kita sebagai negara yang penuh sopan santun dan keramahannya. Remaja sekarang ini berbeda jauh dengan remaja-remaja zaman dulu. Jika remaja dulu cenderung aktif, kreatif, ulet dan mau berusaha sedangkan remaja sekarang ini sudah dimanjakan dengan peralatan serba canggih dan makanan instan, dan kebanyakan tidak mau berusaha dengan keras, sebagi generasi penerus hendaknya kita harus berusaha lebih keras . Zaman yang serba ada ternyata mampu membuat seorang menjadi pemalas dan lamban dalam berfikir serta bertindak.

Nasib bangsa Indonesia dan nilai-nilai kebudayaan sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen masyarakat khususnya kaum muda sebagai generasi penerus. Sayang sekali sampai dengan saat ini, masyarakat Indonesia mengalami krisis kebudayaan. hal ini disebabkan Kebudayaan asli bangsa Indonesia dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkompeten . Bahkan kebudayaan asli bangsa terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing khususnya kebudayaan barat. Watak-watak negatif masyarakat Indonesia seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis, harus dihilangkan dan diganti dengan watak-watak yang baik. Semangat rakyat yang senang bergotong royong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, bermusyawarah memutuskan cara penyelesaian masalah sudah sangat jarang terlihat. Nilai-nilai kebudayaanpun sudah mulai hilang terlindas oleh kemajuan jaman . Dahulu, nilai gotong royong sangat terasa sekali, jika ada tetangga yang melaksanakan hajatan. Ketika petani mau menanam padi atau kedelai di ladang atau panenan, pasti tidak bayar, upahnya hanya makan pagi dan siang atau makan kecil. Jadi, kalau ada diantara mereka menanam atau memanen, maka warga yang lainnya ikut gotong royong dan begitu sebaliknya, terjadi semacam barter tenaga. Sekarang keadaanya telah bergeser, kalau mau bercocok tanam atau panenan sudah harus memperhitungkan upah. Bahkan sekarang jika ada kentongan dipukul untuk bergotong royong di rumah tetangga, banyak orang yang berfikir praktis, cukup memberi uang dan tidak udah ikut gotong royong.

Adanya desakan ekonomi pasar yang kuat, memang terlalu sulit dan berat untuk mempertahankan model gotong royong seperti diatas, dan memang tidak harus dipertahankan benar-asal proporsional. Pola pikir praktis dengan hanya memberi uang tanpa mau terlibat gotong royong jelas merupakan pertanda erosi nilai dan munculnya nilai baru yakni indivualisme pada masyarakat perdesaan, Munculnya nilai individualisme ini terjadi karena semakin terbatasnya kepemilikan tanah yang banyak dikuasai oleh tuan tanah lokal atau masuknya petani berdasi dari kota.

Sebenarnya jika kebudayaan asli kita yang sangat banyak ini dapat kita manfaatkan dengan baik, dapat menjadi penyumbang pendapatan negara kita yang cukup besar dengan menjadikan budaya asli kita dapat kita jadikan sebagai objek wisata. Dengan dijadikan sebagai objek wisata maka tentunya devisa akan bertambah. sekarang ini memang kebudayaan kita mulai menjadi salah satu ikon sebagai objek wisata tetapi masih kurang maksimal. Saat ini banyak sekali kamelut bangsa bermunculan.

Kemelut yang terjadi di Indonesia disebabkan hilangnya budaya asli bangsa yang terkontaminasi budaya Barat, sehingga negara ini kehilangan arah dalam mengimbangi kemajuan zaman. Masyarakat zaman dahulu memiliki sikap sosial yang tinggi antar sesama dan memiliki kesadaran untuk menaati peraturan yang ditetapkan pemerintah. Akan tetapi, sekarang hal itu sangat sulit ditemukan. Selain sikap sosial yang tinggi, rakyat zaman dulu juga memiliki kepedulian yang tinggi dalam menjaga lingkungan di sekitarnya, sehingga kondisi alam pada era tersebut sangat cantik dan menawan. Sebaliknya, pada zaman modern seperti sekarang, sikap seperti itu tampaknya sudah luntur di hati rakyat Indonesia, sehingga alam menjadi panas dan tidak bersahabat lagi dengan manusia karena telah tercemari. Dahulu kondisi itu tidaklah separah seperti zaman sekarang ini, saat itu nilai- nilai religius masih sangat dijaga dan sangat dipatuhi dengan baik. Namun sejak masuknya pengaruh budaya-budaya barat ke negeri kita tercinta ini hal itu mulai luntur berlahan lahan. Nilai-nilai religius khususnya islam sangatlah kental pada saat itu, namun sekarang generasi muda sebagai generasi penerus dengan bangganya memperlihatkan auratnya seperti orang-orang bule. Ditambah lagi pergaulan bebas, narkoba dan tawuran menjadi budaya dikalangan generasi muda saat ini sehingga menambah kemelutnya bangsa kita. Kalau dibandingkan antara zaman sekarang dan zaman dahulu, dapat di ibaratkan seperti bumi dan langit. Sangat memprihatin melihat bangsa kita saat ini, moral masyarakat sudah sangat jauh dari etika ketimuran bangsa kita. Budaya asli kita yang rapuh dan luntur ini menyebabkan kemelut atau persoalan bangsa kita semakin kompleks. Sikap saling menghargai mulai sulit kita jumpai, sikap egois semakin merajalela sopan santun yang muda terhadap yang tua semakin menjadi barang mewah, sungguh budaya sangat luntur dari masyarakat kita sekarang. Karena lunturnya kebudayaan bangsa yang ramah, santun, saling tolong menolong dan pekerja keras maka menambah begitu banyak persoalan bangsa. Kemiskinan dimana-mana, pencurian merajalela, dan masih lebih banyak lagi yang lainnya. Rapuhnya dan lunturnya kebudayaan Indonesia sangat terasa sekali, membuat kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:

- Orang-orang hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.

- Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di luar negeri menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.

- Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dan seterusnya. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.

- Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia.

- Banyak orang Indonesia yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dan setusnya, yang tidak masuk akal.

Saat ini budaya barat berkembang dengan pesatnya di negara berkembang. Modernisasi yang dianggap tidak ubahnya sebagai westernisasi telah menggerus budaya tradisional. Negara maju dianggap memiliki kebudayaan yang lebih modern sehingga perlu ditiru oleh negara berkembang. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadi faktor yang semakin memperkuat penetrasi budaya barat pada budaya tradisional. Menjadi sebuah ketidakadilan ketika arus pertukatan budaya hanya bersifat searah, yaitu dar negara maju ke negara berkembang.

Perubahan pada tingkat global dipengaruhi oleh pola hubungan antar negara. Negara berkembang cenderung hanya sebagai “objek” perubahan yang dihasilkan oleh negara maju. Berbagai teori yang menjelaskan hubungan antar negara memberi gambaran bahwa peran negara maju dalam modernisasi menghasilkan gejala globalisasi. Globalisasi ini yang meluluhlantakan nilai budaya tradisional.

Ketidakpuasan akan modernisasi melahirkan pemikiran post-modernisasi yang mencoba menolak pengaruh perkembangan ekonomi terhadap perubahan budaya. Berbagai pengalam telah membuktikan bahwa perubahan di tingkat global tidak hanya dimonopoli oleh negara maju saja, namun negara berkembang memiliki peran dalam perubahan global tersebut. Munculnya ide pembangunan berbasisi lokalitas dapat dikatakan sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisasi ini. Keberhasilan pembangunan di tingkat lokalitas diharapkan dapat membawa perubahan di tingkat global utamanya mengurangi ketergantungan negara berkembang dengan negara maju.

Budaya bangsa yang luntur dan rapuh harus kita kembalikan agar kamelut- kamelut bangsa kita ini menjadi sirna. Untuk mengembalikan kebudayaan bangsa kita yang luntur tentunya diperlukan membuat kesadaran masyarakat bahwa budaya bangsa kita adalah harta yang tak ternilai harganya yang dapat mengembalikan negara kita yang penuh dengan ketentraman, ketenangan dan pandangan dunia bahwa bangsa kita adalah bangsa yang selalu menghargai kebudayaan bangsanya. Dan di era sekarang ini organisasi sosial mulai meluntur bahkan ada yang tergilas oleh rasa keegoisan individu. Organisasi sosial adalah bagaimana orang-orang memberikan struktur dalam hubungan-hubungan dan cara hidup mereka dengan orang-orang di sekitarnya supaya mereka mendapat identitas dan rasa keamanan dengan masyarakat dan kebudayaan mereka. Organisasi sosial itu dapat diibaratkan pendirian yang dibangun untuk mengatur kehidupan sehari-hari semua jiwa yang berada dalam masyarakat tertentu. Jadi seandainya kehidupan sehari-hari orang-orang itu berubah, berarti organisasi-organisasi sosial yang beraneka-ragam itu terancam karena tak relevan lagi bagi masyarakat itu yang telah memajukan diri dari masa sejarah yang dahulu.
Organisasi sosial pada masyarakat adalah gotong royong dan musyarawah. Gotong royong pada masa sekarang sudah berubah sejak dua puluh lima tahun terakhir abad ke-dua puluh ini. Cara hidup yang lama seperti gotong royong memang terancam oleh cara berinteraksi dan perkumpulan sosial baru yang telah muncul. Saat ini, untuk membangun rumah kebanyakan masyarakat mengatakan lebih suka kalau membayar seorang ahli/tukang untuk mengerjakannya dari pada mengandalkan masyarakat atau keluarga. Namun, karena mayoritas orang-orang masih tinggal di daerah perumahan biasa serta menerima upah pekerjaan yang lumayan berarti konsep yang lebih persis adalah orang-orang sekarang ini lebih cenderung oleh kebiasaan dari gelombang-gelombang kehidupan modern yang mengatakan ‘jangan mengandalkan pada orang-orang lain; menjadi lebih mandiri.’ Mungkin juga, karena masyarakat sekarang adalah masyarakat yang agak modern dan maju sehingga orang-orang lebih sibuk dalam pekerjaan atau segala komitmen mereka sehingga tak bisa membantu dalam sistem gotong royong ini. Sebaliknya, banyak masyarakat yang mengatakan bahwa di desa-desa yang dihuni oleh masyarakat tertentu, masih ada sistem gotong royong yang kental. Hal ini mungkin karena kekurangan pendirian modern dan juga karena masyarakat-masyarakat yang berhubungan erat. Namun, di desa-desa ini juga ada perubahan yang sedang terjadi dimana orang-orang tersebut lebih cenderung membayar tukang apabila ada sesuatu yang harus dilakukan daripada meminta bantuan dari masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, tahun-tahun mendatang kita akan menyaksikan perubahan di masyarakat dari perspektif organisasi sosial yang sesuai dengan arah tujuan masyarakat itu. Selain nilai solidaritas sosial di perdesaan telah menurun tajam, sedangkan nilai kuasa semakin meningkat dan menguat. Penguatan nilai kuasa ini dapat dilihat dari kondisi riil bahwa para petani dipedesaan telah menggunakan kuasanya dalam menggarap sawahnya, memanen padi, menyewa traktor dan dalam berbagai kegiatan lainnya, yang sebelumnya mungkin karena ikatan-ikatan tradisional harus mereka kerjakan dengan mengikutsertakan petani tetangga atau petani sedesanya. Keadaan ini menjadi pertanda yang jelas bahwa masuknya teknologi mekanisasi pertanian memang menguntungkan sekaligus juga menumbuhkan benih – benih individualisme masyarakat petani yang sebelumnya hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Nilai seni di masyarakat-pun mengalami pergeseran ke arah komersialisasi, padahal dulu seni lebih didominasi oleh rasa seni dan keindahan, terlepas dari pertimbangan material. Wayang kulit, wayang golek atau bentuk kesenian rakyat lainnya, kini sudah banyak diberi pesan sponsor, sehingga tidak lagi menghasilkan kesenian yang bermakna dalam memberi kontribusi nilai kepada kehidupan, bahkan dengan adanya pesan – pesan sponsor, nilai kesenian menjadi jelek dan tidak mandiri lagi.
Dahulu , kesenian ronggeng tidak bayar, habis penen langsung mengadakan pentas ronggeng dan penonton secara sukarela menyumbang langsung. Tapi ronggeng sekarang sudah pasang tarif, demikian juga dalang. Jadi seni sudah mengalami komersialisasi yang sangat parah, kesenian kampung menjadi tidak asli lagi, karena pola konsumerisme sudah besar dan merambah kemana mana. Adanya pergeseran nilai dan perilaku keagamaan dan sosial budaya ini juga mengisaratkan kuatnya harapan masyarakat perdesaan untuk menuju perbaikan taraf kehidupan mereka. Oleh karena itu, dalam melakukan program pemberdayaan masytarakat pedesaan, kecuali perlunya perhatian terhadap aspirasi masyarakat yang tercermin dalam nilai dan perilaku keagamaan dan sosial budaya mereka pada saat ini, juga perlu dan harus melakukan transformasi nilai dan ilmu pengetahuan terlebih dahulu yang sesuai dengan modernisasi, sehingga pelaksanaan program pembangunan (pemberdayaan masyarakat pedesaan) dapat mengena pada sasaran yang diinginkan.
Beragam masalah yang timbul di ruang publik akhir-akhir ini patut dijadikan bahan renungan bersama. Ada masalah klasik,masalah baru bermodus klasik, masalah klasik bermodus baru, dan lainnya. Di antara masalah-masalah yang berbeda tersebut, patut menjadi renungan, setidaknya tentang mulai menipisnya solidaritas kebangsaan hingga kebersamaan dalam masyarakat. Penculikan anak yang menghebohkan, kecurigaan tentang kebakaran/ pembakaran pasar tradisional, pembakaran bendera, kelangkaan minyak goreng dan minyak tanah, kasus lumpur yang tak kunjung jelas, visi pendidikan yang simpang siur, dan lain sebagainya memaksa kita untuk merenungkan banyak hal dalam kehidupan bangsa ini. Salah satunya ialah tentang kebersamaan dan solidaritas yang kian mengendur, luntur, dan mengering. Di dalam ruang publik kini telah penuh sesak dengan beragam kepentingan pribadi, baik yang disokong secara langsung/ tidak langsung oleh kekuasaan maupun oleh uang. Ruang publik masyarakat tidak lagi normal dan bersih sebagai tempat yang bebas untuk berekspresi, terutama bagi golongan kecil dan miskin. Mereka semakin sulit mengaksesnya karena keberpihakan kepada mereka juga meluntur, seiring menipisnya solidaritas dan kebersamaan. Kita menghadapi masalah mendasar dalam kehidupan ini, yakni hidup bersama tanpa semangat kebersamaan. Sulitnya untuk bertahan hidup di tengah berbagai tekanan ekonomi dan sosial membuat seolah wajar untuk berpikir hanya memperjuangkan kehidupan sendiri saja.
Dari semua itu, kini sudah hadir di depan mata, suatu fakta bahwa sebagian besar anak bangsa dan generasi penerus merasa kehilangan arah dalam kehidupannya. Mereka tak mampu mengikuti arus perubahan yang begitu cepat. Alih-alih terlindas dalam gelombang perubahan itu sendiri tanpa bisa mengambil manfaat di dalamnya. Dunia sudah bergerak sangat cepat, tetapi masalah kemiskinan dan kemelaratan masih terus menyiksa. Di tengah gegap gempita teknologi dan inovasi baru, justru sebagian besar masyarakat bangsa ini hidup dalam ketidakpastian, dan yang pasti kemiskinan. Solidaritas dan kebersamaan dikesampingkan di tengah ruang publik yang bersifat sangat individual. Manfaatnya sebagai resolusi masalahmasalah yang timbul di kemudian hari tidak tampak sebab keberadaannya sendiri semakin tidak dihargai. Politik kekuasaan merupakan faktor yang paling banyak menyumbangkan kondisi disfungsi ruang publik. Seharusnya, kemiskinan bisa diatasi bila terdapat solidaritas dan kebersamaan. Namun, karena nilai tersebut telah lama melepuh, sering kali solusi dari kemiskinan diserahkan kepada masingmasing pribadi. Begitu sulitnya orang untuk berjuang melawan kemiskinan, akibatnya pilihan untuk bertindak melawan hukum ataupun berbuat kriminal menjadi jalan satu-satunya yang bisa ditempuh. Sebagian besar modus kriminalitas adalah karena faktor ekonomi.

Tak ada lagi yang tersisa untuk bangsa ini karena semua telah dihargai dengan uang. Kaum miskin semakin menderita karena lunturnya kebersamaan. Padahal, kemiskinan sebagai suatu masalah struktural, hanya bisa diselesaikan secara struktural. Kebersamaan menjadi modal anak bangsa untuk saling meneguhkan diri, menguatkan, dan saling berkomitmen. Justru menipisnya nilai kebersamaan ini semakin melebar dan menukik pada unit-unit kehidupan yang kecil, yang sebelumnya kita kira tidak dimungkinkan keberadaannya tanpa kebersamaan. Kebersamaan semakin menipis dalam ranah kehidupan berbangsa, bertetangga, beragama, bahkan berkeluarga. Di sebagian besar fakta sosial, pelajaran “ekonomisme” dari Marx sungguh-sungguh terjadi. Masalah ekonomi menjadi pokok pangkal alias biang keladi dari berbagai masalah yang ada. Seolah-olah semua soal kehidupan ini hanya berujung dan bermuara pada masalah ekonomi.Harga diri,solidaritas sosial, nilai kemanusiaan, nilai agama, kebebasan politik, tradisi dan kebudayaan lokal, dan lain-lainnya, dianggapnya sebagai bagian terkecil dari masalah utama manusia, yakni ekonomi.

Wajah keindonesiaan yang dicirikan dengan berbudaya “bersama” menjadi tak lagi relevan. Lambat laun tapi pasti, kita kehilangan gairah untuk hidup bersama-sama. Tantangan besar bangsa ini adalah bagaimana agar anak negeri ini bisa kembali “bersama” untuk menata republik ini. Bangunan republik ini hanya akan ada bila nilai kebersamaan diwujudkan untuk menciptakan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Itu bisa dilakukan bila anak bangsa ini bisa menghormati keyakinan, pandangan, cara hidup orang yang berbeda. Setiap orang bisa bekerja dan berekspresi tanpa merasa ditekan atau dihalangi, dengan menghargai keanekaragaman budaya, keyakinan, pikiran, ide, atau gagasan. Keadilan bisa dicapai dalam wujudnya yang maksimal bila ada keseimbangan antara ruang pribadi dan ruang bersama. Tidak mengacaukan keduanya, yakni ruang privat menjadi ruang publik, atau sebaliknya. Keseimbangan hak pribadi dan hak bermasyarakat dalam menjalankan kewajiban dalam ruang publik harus dirumuskan secara adil.

Dari sana, kita bisa menjalankan fungsi silang, yakni saling melakukan kontrol untuk terus-menerus menciptakan keseimbangan baru yang lebih harmonis tanpa ada dominasi. Kini kita menghadapi masalah besar, yakni bagaimana nilai kebersamaan anak bangsa ini bisa mewujud lebih konkret dalam memberikan arah dasar pembangunan orientasi dan pemerdekaan manusia Indonesia dari ketergantungan bangsa lain.

Kebersamaan untuk menciptakan manusia yang merdeka, yang memiliki jati diri,mencintai kemanusiaan dan keadilan untuk merenda cakrawala baru yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar, beragama, berelasi dalam rangka mewujudkan nilai dasar keindonesiaan dalam kehidupan sehari-hari. Semua masalah akan bisa diselesaikan dengan mudah bila kita bergandengan tangan untuk membangun bangsa ini dengan nilai keindonesiaan yang kokoh.

C. PENUTUP

Dari uraian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, nilai-nilai kebudayaan bangsa sekarang sudah mulai luntur . Khususnya para pemuda lebih condong senang meniru budaya-budaya luar dari pada budaya asli kita sendiri. Mereka beranggapan bahwa budaya Indonesia adalah budaya yang kuno, monoton dan membosankan. Rasa cinta dan bangga pada budaya sendiri telah hilang. Nasib bangsa Indonesia dan nilai-nilai kebudayaan sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen masyarakat khususnya kaum muda sebagai generasi penerus. Sayang sekali sampai dengan saat ini, masyarakat Indonesia mengalami krisis kebudayaan. hal ini disebabkan Kebudayaan asli bangsa Indonesia dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkompeten .
Sebagian dari mereka lebih memntingkan uang dan kapentingan pribadi. Ruang publik masyarakatpun tidak lagi normal dan bersih sebagai tempat yang bebas untuk berekspresi, terutama bagi golongan kecil dan miskin. Mereka semakin sulit mengaksesnya karena keberpihakan kepada mereka juga meluntur, seiring menipisnya solidaritas dan kebersamaan. Kita menghadapi masalah mendasar dalam kehidupan ini, yakni hidup bersama tanpa semangat kebersamaan. Sulitnya untuk bertahan hidup di tengah berbagai tekanan ekonomi dan sosial membuat seolah wajar untuk berpikir hanya memperjuangkan kehidupan sendiri saja. Perlu adanya program pemberdayaan masytarakat pedesaan, perlunya perhatian terhadap aspirasi masyarakat yang tercermin dalam nilai dan perilaku keagamaan dan sosial budaya mereka pada saat ini, juga perlu dan harus melakukan transformasi nilai dan ilmu pengetahuan terlebih dahulu yang sesuai dengan modernisasi, sehingga pelaksanaan program pembangunan (pemberdayaan masyarakat pedesaan) dapat mengena pada sasaran yang diinginkan.
Yang patut disayangkan adalah media massa cenderung melupakan tanggungjawab terhadap budaya bangsa dan lebih mementingkan kepentingan industri dan konsumerisme. Padahal potensi media massa lah besar dalam mendorong budaya nasional untuk bangkit.
Sebagian besar anak bangsa dan generasi penerus merasa kehilangan arah dalam kehidupannya. Mereka tak mampu mengikuti arus perubahan yang begitu cepat. Alih-alih terlindas dalam gelombang perubahan itu sendiri tanpa bisa mengambil manfaat di dalamnya. Dunia sudah bergerak sangat cepat, tetapi masalah kemiskinan dan kemelaratan masih terus menyiksa. Di tengah gegap gempita teknologi dan inovasi baru, justru sebagian besar masyarakat bangsa ini hidup dalam ketidakpastian, dan yang pasti kemiskinan.
Sekalipun demikian, pergeseran nilai dan perilaku keagamaan dan sosial budaya tidak semuanya buruk . Perubahan dalam masyarakat berharga adalah apabila ketahanan budaya dan nilai-nilai objektifnya selalu sanggup memperbaharui diri. Dalam proses pembaharuan dengan perubahan tersebut sikap mental dan ketahanan budaya berperan positif untuk menjaga keseimbangan antara kesinambungan sistem nilai yang disepakati dengan unsur perubahan menuju kemajuan. Inilah yang secara umum harus dianggap sebagai muatan konsep dasar kebudayaan Indonesia.
Selain menjadi tantangan bagi kelangsungan hidup kebudayaan nasional, media massa juga melakukkan hal-hal yang mendukung perkembangan kebudayaan nasional. Bila hal ini dilakukan untuk mendukung perkembangan kebudayaan nasional dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebudayaan nasional yang selama ini telah menjadi acuan dan tuntunan kehidupan masyarakat, maka media massa patut mendapat apresiasi dan acungan jempol serta dihargai setinggi-tingginya.
Dan kita sebagai anggota masyarakatpun harus menyambut gembira dan turut mendukung pelestarian budaya nasional dengan sebaik yang kita bisa lakukan.

DAFTAR PUSTAKA

http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/proses-perubahan-sosial-dalam-konteks-global/ diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 21.51

http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3269 diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 21.56

http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=8681&coid=1&caid=34 diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 17.15

http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/abd_qadim.htm diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 17.59

http://www.facebook.com/topic.php?uid=195168476920&topic=10792 diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 17.05

http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/media-massa-dan-pelestarian-budaya-nasional/ diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 21.55

http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=8681&coid=1&caid=34 diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 21.36
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/pengaruh-globalisasi-terhadap-kehidupan-masyarakat-indonesia-5/ diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 21.47

http://www.musi-rawas.go.id/musirawas/interaksi/56021-lunturnya-kebudayaan-akibat-globalisasi.html diakses pada hari jumat, tanggal 24 desember 2010 jam 14.24

http://phantomtoili.blogspot.com/2009/01/lunturnya-budaya-lokal-akibat.html diakses pada hari jumat, tanggal 24 desember 2010 jam 14.01

http://hamah.socialgo.com/magazine/read/kajian-kritis-tentang--transisi-masyarakat-tradisional-indonesia-dalam-budaya-konsumtif_15.html diakses pada hari minggu, tanggal 09 januari 2011 jam 17.52

4 komentar:

  1. sangat bagus, sangat membantu. Terimakasih admin :)

    BalasHapus
  2. Membantu sekali, terima kasih.....

    BalasHapus
  3. ijin mengutip sob, mau buat referensi tgas ospek...
    makasih

    BalasHapus